Strategi Mengerjakan Soal Literasi dengan Teks Panjang
Teks panjang di soal literasi TKA SMP bukan masalah kecepatan membaca, melainkan masalah cara membaca. Ada urutan kerja yang membuat waktumu cukup tanpa harus membaca ulang berkali-kali.
Waktu tersisa dua belas menit, masih ada delapan soal, dan bacaan terakhir panjangnya lima paragraf. Situasi ini terjadi hampir di setiap simulasi, dan penyebabnya biasanya bukan lambat membaca.
Penyebabnya adalah membaca dua kali. Satu kali saat teks pertama muncul, satu kali lagi untuk setiap soal karena isi bacaannya sudah lupa. Kalau satu teks diikuti empat soal, kamu bisa membacanya lima kali tanpa sadar.
Urutan kerja yang menghemat waktu
Ada urutan yang terbukti lebih hemat, dan urutannya berbeda dari kebiasaan kebanyakan orang.
Mulailah dengan menyapu pertanyaannya lebih dulu, sekitar sepuluh detik. Kamu tidak perlu menghafal, cukup tahu jenisnya: ada yang menanyakan angka, ada yang menanyakan gagasan utama, ada yang meminta penilaian. Dengan begitu, saat membaca kamu tahu apa yang sedang dicari.
Baru kemudian baca teksnya sekali, tapi dengan cara tertentu. Setiap selesai satu paragraf, berhenti setengah detik dan sebutkan dalam hati satu frasa yang mewakili isinya. Paragraf satu: sejarah berdirinya. Paragraf dua: angka pertumbuhan. Paragraf tiga: kendala. Empat frasa untuk empat paragraf. Peta itulah yang membuat kamu tidak perlu membaca ulang, karena kamu tahu harus kembali ke bagian mana.
Setelah itu kerjakan soal berurutan. Untuk soal yang menanyakan detail, lompat langsung ke paragraf yang sesuai peta tadi. Untuk soal gagasan utama, kamu sudah punya jawabannya dari kebiasaan meringkas per paragraf.
Menandai tanpa alat tulis
Soal dikerjakan di layar, dan kamu tidak bisa menyoret kalimat seperti di kertas. Tapi tetap ada yang bisa ditandai secara mental atau di kertas coret.
Angka dan tahun. Nama orang, tempat, atau lembaga. Kata penghubung yang menunjukkan pertentangan seperti namun, meski begitu, sebaliknya, padahal. Kata-kata itu menandai belokan arah dalam tulisan, dan belokan hampir selalu menjadi bahan pertanyaan.
Kalimat yang memuat pendapat penulis juga layak dicatat. Biasanya terletak di awal atau akhir paragraf, dan menjadi kunci untuk soal bertipe penilaian.
Membedakan tiga jenis pertanyaan
Setiap soal literasi masuk salah satu dari tiga jenis, dan masing-masing punya cara kerja sendiri.
Kalau jawabannya tertulis jelas di teks, tugasmu hanya mencari. Jangan berpikir panjang, jangan mencari makna tersembunyi. Kembali ke paragraf yang sesuai dan ambil.
Kalau jawabannya harus ditarik dari yang tertulis, misalnya menentukan gagasan utama atau menebak makna kata dari konteks, pastikan apa yang kamu simpulkan punya pijakan di teks. Cek ulang: kalimat mana yang mendukungnya? Kalau kamu tidak bisa menunjuk kalimatnya, kemungkinan kamu sedang menambahkan pengetahuan dari luar bacaan.
Cara cepat membedakannya begini. Baca pertanyaannya, lalu tanya pada diri sendiri: apakah aku bisa menunjuk satu kalimat sebagai jawabannya? Kalau bisa, itu tipe pertama. Kalau perlu menggabungkan dua kalimat atau lebih, itu tipe kedua. Kalau tidak ada kalimat mana pun yang bisa ditunjuk dan kamu harus menimbang, itu tipe ketiga.
Kalau kamu diminta menilai, misalnya apakah alasan penulis kuat atau apakah judulnya sesuai, jawabannya tetap harus berdasar isi bacaan. Bukan berdasar pendapat pribadimu tentang topiknya.
Jebakan pilihan jawaban
Dua pola yang paling banyak memakan korban sudah dibedah terpisah di kisi-kisi Bahasa Indonesia TKA SMP, yaitu opsi yang kalimatnya memang ada di teks tetapi tidak menjawab pertanyaan, dan opsi yang memakai kata mutlak padahal teks aslinya berhati-hati.
Satu pola lagi khas menyerang pada bacaan panjang: opsi yang benar secara pengetahuan umum tetapi tidak disebut dalam bacaan. Semakin panjang teksnya, semakin gampang kamu tertukar antara apa yang barusan kamu baca dan apa yang sudah kamu tahu sejak dulu. Kalau soalnya meminta pernyataan yang didukung teks, pengetahuanmu dari luar tidak dihitung, sebenar apa pun isinya.
Membagi waktu 75 menit
Tiga puluh soal dalam 75 menit berarti dua setengah menit per soal, tetapi jangan diratakan. Soal tipe pencarian detail selesai dalam satu menit. Soal penilaian bisa butuh empat menit. Yang penting adalah totalnya.
Patokan sederhana: setelah 35 menit, kamu sebaiknya sudah melewati soal ke-15. Kalau baru di soal ke-10, percepat, dan jangan menghabiskan waktu di satu soal lebih dari tiga menit. Tandai, lanjut, kembali nanti kalau sempat.
Latihan menebak arah bacaan
Satu bacaan per hari sudah cukup, dan bahannya artikel apa saja. Baca sampai habis satu paragraf, lalu tutup sisa teksnya. Sebelum membuka lagi, tebak isi paragraf berikutnya hanya dari kalimat terakhir yang barusan kamu baca. Kalau kalimat itu ditutup dengan "meski begitu", penulis sedang bersiap berbalik arah. Kalau ditutup dengan "akibatnya", yang datang berikutnya adalah dampak.
Buka lagi, periksa tebakanmu. Meleset tidak apa-apa. Yang dilatih adalah kebiasaan membaca kata penghubung sebagai penunjuk jalan, dan kebiasaan itulah yang membuat lima paragraf terasa pendek.
Pilih bahan bacaan yang bervariasi. Kalau kamu hanya membaca berita olahraga selama sebulan, kamu jadi cepat di topik itu tetapi tetap lambat saat bertemu laporan tentang lingkungan atau penggalan cerpen. Selang-seling saja: dua hari teks informasi, satu hari cerita pendek, satu hari infografik atau tabel.
Lima menit sehari, tanpa buku soal. Setelah dua pekan biasanya matamu berhenti mundur ke paragraf sebelumnya, dan dua belas menit tersisa untuk delapan soal terakhir tidak lagi terasa mencekik.