Kisi-Kisi Bahasa Indonesia TKA SMP: Teks Informasi dan Teks Fiksi
Soal Bahasa Indonesia TKA SMP dibangun dari dua jenis bacaan, teks informasi dan teks fiksi, lalu menguji tiga tingkat kemampuan mulai dari memahami isi tersurat hingga menilai dan mengapresiasi.
Kalau kamu membuka soal Bahasa Indonesia TKA lalu mencari pertanyaan tentang jenis kata atau definisi majas, kemungkinan besar kamu tidak akan menemukannya. Bentuk soalnya berbeda dari ulangan harian yang biasa.
Semua soal menempel pada bacaan. Ada teks di sebelah kiri layar, ada beberapa pertanyaan yang mengikutinya. Yang diukur adalah apa yang bisa kamu lakukan terhadap bacaan itu.
Dua jenis bacaan
Teks informasi berisi artikel populer, laporan, berita, infografik, tabel data, atau kombinasi teks dan gambar. Topiknya bisa apa saja: pengelolaan sampah di sebuah kota, kebiasaan tidur remaja, cara kerja panel surya, atau sejarah singkat sebuah tradisi daerah. Panjangnya biasanya tiga sampai enam paragraf.
Teks fiksi berisi cerpen, penggalan novel, fabel, atau puisi. Kamu tidak diminta menyebutkan unsur intrinsik satu per satu seperti hafalan. Kamu diminta menangkap watak tokoh dari perbuatannya, memahami mengapa cerita berakhir seperti itu, atau menilai apakah sikap tokoh masuk akal.
Kedua jenis ini muncul dalam proporsi berimbang. Siswa yang hanya rajin membaca berita biasanya kesulitan di bagian fiksi, dan sebaliknya siswa yang hanya suka novel sering tersandung saat harus membaca tabel.
Tiga tingkat kemampuan
Inilah tulang punggung kisi-kisinya.
Pemahaman tekstual adalah tingkat pertama. Jawabannya ada di dalam teks, tertulis apa adanya. Kamu hanya perlu menemukannya. Contoh pertanyaannya: pada tahun berapa program itu dimulai, berapa jumlah peserta yang disebutkan, apa nama alat yang dipakai tokoh.
Pemahaman inferensial menuntut satu langkah lebih jauh. Jawabannya tidak tertulis, tetapi bisa ditarik dari yang tertulis. Misalnya menentukan gagasan utama sebuah paragraf, menyimpulkan sebab suatu peristiwa, menebak makna kata sulit dari konteks kalimatnya, atau menjelaskan hubungan antara paragraf dua dan paragraf empat.
Evaluasi dan apresiasi adalah tingkat tertinggi. Kamu diminta menilai. Apakah alasan penulis cukup kuat untuk mendukung pendapatnya. Apakah data yang dikutip relevan. Apakah judul yang dipakai sesuai dengan isi. Pada teks fiksi, kamu bisa diminta menilai apakah keputusan tokoh dapat dibenarkan berdasar peristiwa di dalam cerita.
Nilai siswa umumnya bagus di tingkat pertama, lumayan di tingkat kedua, dan anjlok di tingkat ketiga. Bukan karena sulit, tetapi karena jarang dilatih. Di kelas, pertanyaan yang paling sering muncul memang bertipe "sebutkan" dan "jelaskan", bukan "nilailah".
Jebakan yang paling sering memakan korban
Ada satu jenis jebakan yang berulang di hampir semua paket soal: opsi yang isinya benar menurut teks, tetapi tidak menjawab pertanyaan.
Contohnya, pertanyaannya meminta gagasan utama paragraf ketiga. Salah satu opsi memuat kalimat yang memang tertulis di paragraf ketiga, jadi rasanya aman dipilih. Padahal kalimat itu hanya contoh pendukung, bukan gagasan utamanya. Karena terlihat familier, opsi itu sering dipilih tanpa ragu.
Jebakan kedua adalah opsi yang memakai kata mutlak seperti selalu, semua, tidak pernah, atau satu-satunya, sementara teks aslinya memakai kata yang lebih hati-hati seperti umumnya atau sebagian besar. Perbedaan itu kecil di mata, besar di makna.
Jebakan ketiga muncul pada soal makna kata. Banyak siswa menjawab dengan arti kamus yang paling umum, padahal pertanyaannya adalah makna kata itu di dalam kalimat tersebut. Kata "matang" pada "rencananya sudah matang" jelas bukan soal buah.
Bentuk soal yang dipakai
Selain pilihan ganda biasa, kamu akan bertemu tabel pernyataan yang harus dinilai sesuai isi bacaan atau tidak sesuai. Bentuk ini enak dikerjakan asal kamu disiplin memeriksa satu pernyataan pada satu waktu dan kembali ke teks untuk memastikan.
Ada juga pilihan ganda yang jawabannya lebih dari satu, misalnya memilih dua pernyataan yang didukung oleh bacaan. Mencentang semua opsi tidak menolong, sebab penilaiannya sebagian dan opsi yang salah memakan opsi yang benar.
Isian singkat muncul untuk hal-hal spesifik: menyebut satu kata dari teks, angka, atau nama. Tulis persis seperti pada bacaan, tanpa tambahan kata.
Menguji apakah kamu benar-benar menangkap isinya
Cara paling efektif ternyata sederhana dan tidak melibatkan buku soal. Ambil satu artikel apa saja, panjang tiga sampai lima paragraf. Baca sekali. Tutup layarnya. Tulis satu kalimat berisi inti seluruh bacaan dengan kalimatmu sendiri. Buka lagi, periksa apakah kalimatmu benar-benar mewakili isinya atau hanya memungut satu detail yang paling menempel di ingatan.
Lakukan lima kali seminggu selama sebulan. Kemampuan menangkap gagasan utama akan naik dengan sendirinya, dan itu adalah kemampuan yang paling banyak dipakai di seluruh sesi Bahasa Indonesia.
Setelah terbiasa, naikkan tingkat kesulitannya: setelah membaca, tulis satu kalimat berisi pendapatmu tentang apakah alasan penulis cukup meyakinkan, disertai bukti dari teks. Latihan itulah yang menyiapkan kamu untuk soal evaluasi, bagian yang paling jarang dikuasai orang.
Untuk teks fiksi, latihannya sedikit berbeda. Setelah membaca sebuah cerpen atau penggalan novel, sebutkan satu sifat tokoh utama, lalu tunjuk perbuatan mana di dalam cerita yang menjadi buktinya. Kalau kamu tidak bisa menunjuk perbuatannya, berarti sifat itu kamu tebak, bukan kamu baca. Kebiasaan menuntut bukti inilah yang membuat kamu tidak tergelincir pada opsi jawaban yang terdengar masuk akal tetapi tidak punya pijakan di teks.