Beda TKA, Ujian Nasional, dan ANBK yang Sering Tertukar
TKA menilai kemampuan tiap siswa per mata pelajaran, ANBK memotret mutu sekolah lewat siswa sampel, sedangkan ujian nasional yang dulu menentukan kelulusan sudah berhenti sejak 2019.
| Ujian Nasional | ANBK / Asesmen Nasional | TKA | |
|---|---|---|---|
| Status | Berhenti, terakhir 2019 | Berjalan | Berjalan, SMA/SMK mulai 2026 |
| Yang dinilai | Siswa | Sekolah | Siswa |
| Peserta | Seluruh siswa tingkat akhir | Sampel acak, umumnya kelas 5, 8, dan 11 | Siswa yang didaftarkan |
| Isi | Mata pelajaran | Literasi, numerasi, dua survei | Mata pelajaran, plus dua survei |
| Hasil untuk siapa | Siswa dan sekolah | Sekolah dan pemerintah daerah | Siswa |
| Menentukan kelulusan | Pernah, lalu dicabut | Tidak | Tidak |
Tiga nama itu sering dipakai bergantian di grup wali murid, padahal fungsinya berbeda jauh. Kekeliruan yang paling sering muncul: menganggap TKA sebagai ujian nasional yang dihidupkan lagi dengan nama baru. Bukan.
Ujian nasional dan kenapa berhenti
UN dipakai puluhan tahun dan sempat menjadi penentu kelulusan. Konsekuensinya besar sekali untuk satu tes: anak yang sedang demam pada hari-H bisa kehilangan setahun. Tekanan itu merembet ke mana-mana, dari les tambahan wajib sampai kecemasan yang berlebihan pada anak kelas 9. Fungsi penentu kelulusan akhirnya dicabut, dan penyelenggaraannya berhenti setelah 2019. Rencana 2020 batal karena pandemi.
Yang pantas dibawa dari babak itu bukan nostalgia soal-soalnya, melainkan alasan pemberhentiannya. Alasan itulah yang membentuk desain TKA sekarang.
ANBK memotret sekolah, bukan anak
Asesmen Nasional Berbasis Komputer menggantikan UN sejak 2021. Isinya tiga bagian: Asesmen Kompetensi Minimum yang mengukur literasi membaca dan numerasi, Survei Karakter, serta Survei Lingkungan Belajar.
Perbedaan paling mendasarnya ada pada pesertanya. ANBK memakai sampel acak, dan kuotanya per sekolah ditetapkan lewat petunjuk teknis ANBK dan tidak sama di tiap jenjang, diambil dari kelas 5, kelas 8, dan kelas 11. Kelas akhir sengaja dihindari supaya tidak bertabrakan dengan urusan kelulusan. Karena hanya sampel, banyak siswa tidak pernah ikut sama sekali, dan yang ikut pun tidak menerima nilai pribadi.
Hasilnya menjadi Rapor Pendidikan: dokumen mutu untuk sekolah dan dinas. Berguna untuk memperbaiki program sekolah, tidak berguna untuk mengetahui posisi seorang anak.
Karena itu, orang tua yang bertanya "berapa nilai ANBK anak saya?" tidak akan pernah dapat jawaban. Angkanya memang tidak dibuat.
Di mana TKA berdiri
TKA mengembalikan hasil per individu tanpa mengembalikan taruhan kelulusan. Pesertanya siswa yang didaftarkan, bukan sampel. Isinya mata pelajaran: SD dan SMP mengerjakan Matematika serta Bahasa Indonesia; SMA/SMK mengerjakan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, ditambah dua mata pelajaran pilihan dari daftar 19 mapel non-vokasi seperti Fisika, Ekonomi, Sosiologi, atau Bahasa Jepang.
Dua survei — Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar — juga ada di TKA, dan namanya memang sama dengan yang di ANBK. Ini sumber kebingungan berikutnya. Perlakukan begini saja: bagian survei tidak menghasilkan skor akademik, tidak perlu dipelajari, dan tidak ada jawaban benar di dalamnya.
Aturan mainnya keputusan menteri tahun 2025, yang diturunkan menjadi petunjuk teknis berbeda untuk tiap jenjang — nomor lengkapnya ada di halaman aturan TKA.
Survei dengan nama sama di dua tempat
Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar muncul di ANBK maupun di TKA, dan kesamaan nama itu memperparah kebingungan. Isinya memang serupa: pertanyaan tentang kebiasaan, sikap, hubungan dengan teman dan guru, serta kondisi belajar di rumah dan di sekolah.
Cukup pegang satu hal. Bagian survei tidak menghasilkan skor akademik, tidak ada jawaban yang benar, dan tidak perlu dipelajari. Anak yang menjawab sejujurnya justru memberi data yang berguna; anak yang menjawab menurut apa yang dikira ingin didengar sekolah membuat datanya sia-sia.
Istilah AN dan ANBK juga sering dipersoalkan. AN adalah nama programnya, sedangkan ANBK menegaskan cara pelaksanaannya yang berbasis komputer. Keduanya menunjuk hal yang sama, jadi tidak perlu dicari bedanya. Begitu pula AKM, yang merupakan bagian dari AN untuk mengukur literasi membaca dan numerasi. Kalimat semacam "besok anak saya ikut AKM" hampir selalu berarti ikut ANBK.
Cara cepat membedakan saat ada kabar masuk
Ketika ada pengumuman atau pesan berantai tentang "ujian nasional versi baru", periksa tiga hal berurutan. Pertama, siapa pesertanya — kalau hanya sebagian siswa yang dipanggil dan kelasnya 5, 8, atau 11, itu ANBK. Kedua, apakah nilainya keluar per siswa — kalau ya, itu TKA. Ketiga, apakah disebut memengaruhi kelulusan — kalau ya, minta rujukan tertulisnya, karena baik ANBK maupun TKA tidak dirancang untuk itu dan kelulusan tetap ditetapkan satuan pendidikan.
Yang perlu disiapkan berbeda pula
Menghadapi ANBK, tidak ada yang bisa disiapkan secara pribadi karena belum tentu anak Anda terpilih, dan hasilnya pun bukan milik dia. Menghadapi TKA, persiapan masuk akal karena nilainya menempel pada namanya sendiri.
Bentuk persiapannya juga tidak sama dengan zaman UN. Menghafal kunci jawaban dari bank soal tahun lalu tidak menolong, sebab yang diuji adalah penerapan konsep pada konteks yang belum pernah dilihat. Jauh lebih berguna membiasakan diri membaca teks panjang tanpa panik, dan mengerjakan soal hitungan sambil menuliskan langkahnya.
Perbedaan ketiganya terasa juga pada penempatan waktu: ANBK punya siklusnya sendiri, sedangkan TKA berjalan per musim dengan tahapan yang diumumkan satu per satu. Rincian tanggalnya ada di jadwal TKA.
Kalau ingin melihat sendiri seperti apa bentuk soalnya sebelum berdebat soal istilah, halaman materi TKA memuat susunan mapel per jenjang beserta contoh bentuk soalnya.