Apakah Nilai TKA Menentukan Kelulusan Sekolah?
Tidak. Kelulusan ditetapkan satuan pendidikan lewat rapat kelulusan, seperti yang berlaku sejak ujian nasional dihentikan. TKA menghasilkan nilai per mata pelajaran, bukan status lulus atau tidak lulus.
Tidak. Nilai TKA tidak dipakai untuk menyatakan seorang siswa lulus atau tidak lulus.
Kelulusan ditetapkan oleh satuan pendidikan. Sekolahlah yang menggelar rapat kelulusan, menimbang nilai rapor sepanjang jenjang, penyelesaian seluruh program pembelajaran, penilaian sikap, dan ujian yang diselenggarakan sekolah sendiri. Mekanisme itu sudah berjalan sejak ujian nasional berhenti setelah 2019, dan hadirnya TKA tidak mengubahnya.
Kenapa kekhawatiran ini muncul
Karena selama bertahun-tahun sebuah tes nasional memang menentukan nasib. Generasi orang tua sekarang mengalami sendiri bagaimana satu pekan di bulan April bisa membatalkan hasil tiga tahun. Wajar kalau begitu mendengar ada tes berskala nasional lagi, ingatan itu yang naik duluan.
Bedanya ada pada rancangannya. TKA memberi angka per mata pelajaran kepada tiap siswa, tetapi angka itu tidak diterjemahkan menjadi status. Tidak ada ambang batas kelulusan yang harus dilewati, tidak ada kolom "lulus" atau "tidak lulus" pada hasilnya. Yang keluar adalah gambaran kemampuan, sama seperti hasil pemeriksaan kesehatan yang memberi tahu kondisi tanpa menutup pintu.
Lalu apa taruhannya
Ini pertanyaan yang lebih berguna daripada soal kelulusan. Nilai TKA menempel pada nama seorang siswa, jadi ia menjadi catatan capaian akademik yang bisa ditunjukkan. Berbeda dengan Asesmen Nasional yang hasilnya milik sekolah, hasil TKA milik siswa.
Bagaimana persisnya hasil itu dipakai untuk seleksi ke jenjang berikutnya adalah kewenangan lembaga yang menyelenggarakan seleksi, dan ketentuannya diumumkan lewat kanal resmi mereka masing-masing. Sampai pengumuman itu keluar, hindari mempercayai tangkapan layar berisi bobot atau rumus konversi yang beredar di grup. Setiap musim seleksi selalu diramaikan angka-angka karangan semacam itu.
Yang berubah dan yang tidak di sekolah
Kewajiban lamanya tidak hilang: siswa tetap harus menyelesaikan seluruh program pembelajaran, mengerjakan ujian sekolah, dan dinilai sikapnya. Kalau kehadiran berantakan atau ada mata pelajaran yang tidak tuntas, itu urusan yang harus diselesaikan dengan wali kelas, dan TKA sama sekali tidak menolong di situ.
Tambahannya cuma satu, yaitu titik ukur dari luar sekolah. Sekolah bisa membandingkan penilaian internalnya dengan hasil TKA siswanya. Kalau rata-rata nilai rapor Matematika di sebuah sekolah tinggi tetapi hasil TKA-nya rendah, ada sesuatu pada cara menilai yang perlu ditinjau. Fungsi cermin semacam ini justru salah satu alasan tes ini dirancang.
Kalau ada yang bilang sebaliknya
Sesekali muncul kabar bahwa sekolah tertentu akan memakai nilai TKA sebagai syarat menerima ijazah, atau sebagai penentu peringkat kelas. Menghadapi kabar seperti itu, minta rujukan tertulisnya. Dasar aturannya keputusan menteri tahun 2025 beserta petunjuk teknis turunannya, dan nomor persisnya bisa dicocokkan di halaman aturan TKA. Kalau sebuah ketentuan tidak bisa ditunjuk sumbernya, kemungkinan besar itu tafsir seseorang yang kadung menyebar.
Untuk kebijakan internal sekolah sendiri — misalnya sekolah ingin memakai hasil TKA sebagai bahan pembinaan — tanyakan langsung ke kepala sekolah bagaimana bentuknya. Itu hak sekolah untuk mengatur, tetapi bentuknya harus jelas dan diumumkan, bukan disimpulkan dari desas-desus.
Kalau nilainya rendah
Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pengulangan tingkat, tidak ada penahanan ijazah, tidak ada catatan yang membuntuti seseorang seumur hidup.
Justru di titik itu hasilnya perlu dibaca sampai bagian yang paling rinci. Angka keseluruhan hampir tidak berguna untuk perbaikan; yang berguna adalah mengetahui bagian materi mana yang skornya paling rendah. Jarak antara "Matematikanya lemah" dan "penalaran pada soal data dan peluang belum jalan" adalah jarak antara menyerah dan tahu harus mulai dari mana.
Di tka.id, hasil dipecah sampai per elemen materi dan per kompetensi supaya perbedaan itu terlihat — rapor serinci itu buatan tka.id sendiri, dan laporan resmi nanti belum tentu berbentuk sama.
Bedanya dengan ujian sekolah
Ujian sekolah punya konsekuensi nyata terhadap nilai rapor, dan lewat rapor menyentuh kelulusan. TKA tidak. Kalau jadwal keduanya berdekatan dan seorang siswa harus memilih mana yang disiapkan lebih serius, ujian sekolah jelas didahulukan.
Bukan berarti TKA dikerjakan asal-asalan. Maksudnya, kecemasan sebaiknya ditempatkan pada hal yang memang berkonsekuensi, bukan disebar rata ke segala hal.
Menyikapinya di rumah
Menghilangkan taruhan kelulusan bukan alasan untuk mengerjakan asal-asalan. Anak yang mengisi jawaban sembarangan supaya cepat selesai memang tidak akan gagal lulus, tetapi hasilnya jadi tidak berguna bagi siapa pun, termasuk bagi dirinya sendiri. Yang hilang adalah informasi, dan informasi itulah satu-satunya barang berharga dari tes ini.
Nada bicara di rumah sebaiknya menyesuaikan. Kalimat seperti "kalau nilainya jelek kamu tidak lulus" bukan hanya menakut-nakuti, tetapi juga keliru. Ganti dengan yang lebih jujur: hasilnya akan menunjukkan bagian mana yang sudah kuat dan bagian mana yang perlu diperbaiki, dan itu berguna sebelum masuk jenjang berikutnya.
Musim 2026 sedang berjalan untuk SMA/SMK, sementara SD dan SMP masih menunggu tanggal resmi; keduanya dirinci di jadwal TKA.
Buka hasil ujian sekolah terakhir anakmu, lalu cari mata pelajaran yang nilainya naik-turun paling jauh antar semester. Ketidakstabilan biasanya menandakan pemahaman yang bergantung pada tipe soal, bukan pemahaman yang mantap. Bagian itu yang paling pantas dilatih lebih dulu, dengan atau tanpa TKA.