Apa Itu TKA dan Kenapa Cara Menilai Siswa Berubah Lagi
TKA atau Tes Kemampuan Akademik memberi setiap siswa nilai per mata pelajaran, sesuatu yang hilang sejak ujian nasional berhenti pada 2019. Isi tesnya, jenjang yang ikut, dan alasan penilaian lama ditinggalkan.
Sejak ujian nasional terakhir digelar pada 2019, tidak ada lagi satu angka berskala nasional yang menempel pada nama seorang siswa. Pandemi menutup jadwal 2020, lalu mulai 2021 pemerintah memakai Asesmen Nasional. Bedanya jauh: Asesmen Nasional memotret sekolah, bukan anak. Pesertanya sampel acak, hasilnya turun sebagai rapor pendidikan untuk satuan pendidikan, dan tidak ada lembar nilai yang bisa dibawa pulang oleh seorang siswa.
Akibatnya pertanyaan sesederhana "kemampuan Matematika anak saya sebenarnya di posisi mana?" cuma bisa dijawab nilai rapor sekolah. Padahal standar rapor berbeda antar sekolah, kadang antar guru di sekolah yang sama. Angka 85 di satu SMP tidak otomatis setara 85 di SMP sebelah.
Tes Kemampuan Akademik, disingkat TKA, dirancang untuk menutup celah itu. Tesnya menguji penguasaan mata pelajaran, hasilnya keluar per individu, dan pesertanya bukan sampel melainkan siswa yang mendaftar.
Yang sebenarnya diukur
TKA bukan tes bakat, bukan tes IQ, dan bukan survei kebiasaan belajar. Yang diukur adalah seberapa jauh seorang siswa menguasai materi mata pelajaran yang sudah dipelajari di kelas — kemampuan membaca dan menafsirkan teks, bernalar dengan bilangan dan bentuk, serta menerapkan konsep pada situasi baru.
Susunan mapelnya berbeda per jenjang:
| Jenjang | Mata pelajaran yang diujikan |
|---|---|
| SD | Matematika, Bahasa Indonesia |
| SMP | Matematika, Bahasa Indonesia |
| SMA/SMK | Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, plus dua mata pelajaran pilihan |
Dua mata pelajaran pilihan untuk SMA/SMK diambil dari daftar non-vokasi yang berisi 19 nama: Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Antropologi, Pendidikan Pancasila, Matematika Tingkat Lanjut, Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut, Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, Bahasa Arab, Bahasa Jepang, Bahasa Korea, Bahasa Mandarin, Bahasa Jerman, Bahasa Perancis, serta Projek Kreatif dan Kewirausahaan.
Di luar mata pelajaran, ada dua bagian bernama Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar. Keduanya tidak dihitung sebagai nilai akademik. Isinya pertanyaan tentang kebiasaan, sikap, dan kondisi belajar — jawabannya tidak ada yang benar atau salah, jadi tidak perlu dipelajari.
Kenapa penilaian lama ditinggalkan
Ujian nasional punya satu masalah besar: taruhannya terlalu tinggi. Ketika satu tes menentukan lulus atau tidak lulus, sekolah bergeser jadi tempat latihan soal berbulan-bulan, dan anak kelas 6 bisa sakit perut tiap pagi menjelang ujian. Itu sebabnya fungsi penentu kelulusan dicabut, lalu ujiannya sendiri dihentikan.
Asesmen Nasional memperbaiki sisi itu. Tekanan pada siswa turun drastis karena tidak ada konsekuensi personal. Tetapi harga yang dibayar adalah hilangnya potret individu. Sekolah tahu rata-rata literasinya di mana, orang tua tidak tahu apa-apa soal anaknya sendiri.
TKA mengambil posisi di tengah. Nilai keluar per siswa, per mata pelajaran, tetapi tidak dipakai untuk memvonis kelulusan. Anak yang nilainya rendah tidak kehilangan ijazah; yang didapat adalah informasi tentang bagian mana yang masih bolong.
Dasar aturannya
Payung kebijakannya adalah Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 95/M/2025. Aturan teknis penyelenggaraannya dipecah dua sesuai jenjang: Perkaban BSKAP Nomor 045/H/AN/2025 untuk SMA/SMK, dan Nomor 047/H/AN/2025 untuk SD dan SMP. Kalau ada informasi soal TKA yang beredar di grup wali murid tanpa merujuk salah satu dokumen itu, perlakukan sebagai kabar burung sampai sekolah mengonfirmasi.
Kapan dilaksanakan
Jenjang SMA/SMK jalan lebih dulu. Pendaftaran musim 2026 dibuka 27 Juli sampai 27 September 2026, gladi bersih 5 sampai 18 Oktober, dan ujian utamanya 26 Oktober sampai 8 November 2026 yang dibagi ke dalam empat hari pelaksanaan. Tahap demi tahapnya dirinci di jadwal TKA.
Untuk SD dan SMP, musim berikutnya diperkirakan jatuh pada Maret sampai April 2027. Angka itu masih perkiraan — tanggal resminya belum diumumkan, jadi jangan dipakai sebagai patokan untuk memesan apa pun.
Bentuk soalnya tidak semuanya pilihan ganda
Kebiasaan lama menghitamkan satu bulatan dari lima pilihan sudah tidak cukup. Tes berbasis komputer memungkinkan bentuk yang lebih beragam, dan tryout tka.id memakai empat bentuk yang perlu dikenali sejak awal.
Pilihan ganda biasa masih ada, satu jawaban benar dari beberapa opsi. Lalu ada pilihan ganda kompleks jenis pertama: beberapa opsi bisa benar sekaligus, dan siswa harus memilih semuanya. Bentuk ini paling banyak memakan korban karena kebiasaan berhenti setelah menemukan satu jawaban yang cocok.
Bentuk ketiga berupa tabel pernyataan. Beberapa baris kalimat harus dinilai satu per satu, misalnya benar atau salah, dan satu baris yang terlewat membuat nilai bagian itu tidak penuh. Bentuk keempat isian singkat: jawabannya diketik, bukan dipilih, jadi menebak tidak mungkin.
Keempat bentuk itu adalah susunan yang dipakai di tryout tka.id. Format resmi bisa berbeda, tetapi membiasakan diri dengan ragam yang lebih luas tidak pernah merugikan.
Apa yang berubah di rumah
Perubahan paling nyata bukan pada jumlah soal, melainkan pada apa yang bisa dilakukan setelah hasil keluar. Nilai per mata pelajaran memberi arah: kalau Matematika seorang siswa SMP tertinggal jauh di bagian data dan peluang tetapi aman di bilangan, latihan berikutnya jelas harus ke mana. Itu jauh lebih berguna daripada satu angka gabungan.
Di tka.id, tiap mata pelajaran diberi skor 0 sampai 100 dan hasilnya dipecah lagi menjadi rapor per elemen materi dan per kompetensi — misalnya seberapa kuat penalarannya dibanding kemampuan menghitungnya. Pemecahan sedetail itu adalah fitur tka.id, bukan format resmi pemerintah, jadi jangan kaget kalau bentuk laporan resmi nanti berbeda.
Langkah paling masuk akal sekarang: tanyakan ke wali kelas apakah sekolah sudah menerima petunjuk teknis TKA dan siapa yang mengurus pendataan peserta. Sambil menunggu, satu kali tryout gratis sudah cukup untuk tahu bagian mana yang perlu diperbaiki lebih dulu, dan hasilnya lebih jujur daripada tebakan.