TKA Dikerjakan dengan Komputer atau Kertas?
TKA dirancang sebagai tes berbasis komputer karena bentuk soalnya menuntut begitu. Rincian moda, sesi, dan ruang di tiap sekolah ditetapkan panitia dan diumumkan lewat sekolah.
Jawaban singkatnya: rancangannya berbasis komputer.
Pertanyaan ini masih sering muncul karena ingatan lama. Orang tua yang dulu mengerjakan ujian dengan pensil 2B dan lembar bulatan wajar bertanya apakah anaknya perlu membeli pensil yang sama. Sebagian besar tidak.
Bentuk soalnya yang menuntut layar
Empat bentuk soal dipakai di TKA dan di tryout tka.id yang mengikuti polanya. Pilihan ganda biasa memang masih mungkin dikerjakan di kertas. Tiga bentuk sisanya repot sekali.
Ada pilihan ganda kompleks yang membolehkan lebih dari satu jawaban benar, dengan penilaian sebagian: memilih dua kunci dari tiga tetap mendapat nilai, sementara memilih opsi yang bukan kunci justru mengurangi. Ada bentuk tabel kategori, deretan pernyataan yang harus dinilai benar atau salah satu per satu. Dan ada isian singkat, jawabannya diketik, bukan dibulatkan.
Membuat lembar jawaban kertas untuk tabel kategori sebenarnya bukan hal mustahil. Mengoreksinya untuk ratusan ribu siswa dengan aturan nilai sebagian, itu urusan yang berbeda sama sekali.
Ada satu alasan lagi. Banyak soal TKA bertumpu pada wacana: satu teks panjang dipakai untuk tiga sampai lima soal sekaligus. Di layar, teks itu tinggal digulir di tempatnya sementara soalnya tetap diam di sebelahnya. Di kertas, siswa membolak-balik halaman dan kehilangan waktu.
Yang sudah pasti dan yang belum
Yang pasti adalah kerangka aturannya: Kepmendikdasmen 95/M/2025, lalu Perkaban BSKAP 045/H/AN/2025 untuk SMA dan SMK serta 047/H/AN/2025 untuk SD dan SMP. Jadwalnya juga sudah keluar untuk jenjang SMA: pendaftaran 27 Juli sampai 27 September 2026, gladi bersih 5 sampai 18 Oktober, ujian utama 26 Oktober sampai 8 November 2026. Dua jenjang di bawahnya, SD dan SMP, baru mendapat giliran pada musim 2027.
Yang belum tentu seragam adalah urusan teknis di lapangan. Berapa sesi di sekolahmu, ruang mana yang dipakai, perangkat apa yang tersedia, semua itu keputusan panitia di sekolah masing-masing dan diumumkan lewat sekolah. Kalau sampai hari ini wali kelas belum mengumumkan apa-apa, artinya memang belum diumumkan. Bukan berarti akan pakai kertas.
Sekolah dengan 300 siswa dan 60 komputer jelas tidak bisa menguji semuanya sekaligus. Solusinya membagi sesi, bukan mengganti moda.
Apa yang berubah bagi siswa
Bekerja di layar mengubah kebiasaan kecil yang berdampak besar pada nilai.
Kamu tidak bisa mencoret-coret di lembar soal. Semua hitungan pindah ke kertas buram yang dibagikan pengawas, dan matamu harus bolak-balik antara kertas dan layar. Latih ini sejak sekarang: kerjakan soal Matematika dari layar laptop atau ponsel, hitung di buku, jangan pernah mengintip soal dari buku cetak.
Menandai soal juga berbeda. Di kertas, kamu melingkari nomornya. Di layar ada tombol ragu dan ada navigator berupa kotak-kotak nomor dengan warna berbeda untuk soal kosong, terisi, dan ragu. Siswa yang belum terbiasa sering lupa navigator itu ada, lalu menghabiskan menit terakhir menggulir satu per satu mencari nomor yang belum diisi.
Isian singkat menuntut ketelitian mengetik. Jawaban 12,5 dan 12.5 bisa saja diperlakukan berbeda tergantung pengaturan soalnya, dan spasi berlebih kadang ikut terbaca. Ketik seperlunya, tanpa satuan kecuali diminta.
Satu hal lagi yang sering luput: waktu di ruang ujian mengikuti jam server, bukan jam komputer yang kamu pakai. Menutup lalu membuka lagi halaman tidak menambah waktu, dan jam di dinding ruangan bukan patokan.
Dua pertanyaan turunan yang sering muncul
Perlukah bisa mengetik cepat? Tidak. Bentuk isian singkat meminta jawaban pendek, biasanya satu angka atau satu sampai tiga kata, bukan karangan. Mengetik dengan dua jari pun cukup. Yang perlu dilatih justru ketelitian: jangan menambahkan satuan kalau tidak diminta, jangan memberi spasi berlebih, dan tulis angka desimal sesuai contoh yang diberikan pada soal.
Apakah siswa yang mahir komputer otomatis unggul? Sejauh menyangkut isi soal, tidak. Yang diukur tetap kemampuan menalar, membaca, dan menghitung. Tapi siswa yang sudah akrab dengan tampilannya menghemat menit-menit yang biasanya hilang untuk mencari tombol dan membiasakan diri. Menit itu berharga saat waktumu tinggal sepuluh dan masih ada empat nomor kosong.
Kalau di rumah tidak ada komputer
Ini kekhawatiran yang wajar, terutama di keluarga yang hanya punya satu ponsel bersama. Ujiannya sendiri dilaksanakan dengan fasilitas sekolah, jadi tidak ada tuntutan membeli laptop untuk ikut TKA.
Untuk latihan, ponsel sudah cukup. Tampilan tryout tka.id menyesuaikan layar kecil: teks wacana berubah menjadi blok yang bisa dilipat di atas soal, dan jawaban tetap tersimpan meski sinyal 4G tersendat. Yang tidak bisa digantikan ponsel adalah rasa mengerjakan soal dengan tetikus di meja sekolah, dan untuk itulah gladi bersih diadakan.
Kalau ada kesempatan meminjam laptop atau memakai lab komputer sekolah di luar jam pelajaran, ambil. Dua kali latihan di perangkat yang mirip dengan hari ujian nilainya lebih besar daripada sepuluh kali latihan di ponsel.
Membiasakan tangan, bukan cuma kepala
Pertama, kerjakan satu paket soal penuh dari layar dengan pengatur waktu berjalan, tanpa jeda. Rasakan pegal dan silaunya, lalu cari posisi duduk yang tahan 75 menit.
Kedua, coba semua bentuk soal setidaknya sekali, terutama tabel kategori dan isian singkat. Banyak siswa baru sadar cara kerjanya saat hari ujian, dan itu terlambat.
Ketiga, saat gladi bersih nanti, perhatikan hal-hal sepele: seberapa cepat halaman soal termuat di jaringan sekolahmu, di mana letak tombol ragu, dan berapa lama proses masuk memakan waktu. Catat di kertas kecil. Hal-hal itu yang biasanya bikin panik di hari-H, bukan materinya.