Ttka.id
← Semua artikel

Survei Karakter di TKA SD Itu Apa dan Apakah Dinilai?

Administrator · 16 Agustus 2026

Survei Karakter berisi pertanyaan tentang sikap dan kebiasaan sehari-hari, bukan soal berjawaban benar atau salah. Di tryout tka.id, sesi ini tidak dihitung dalam skor.

"Tadi soalnya aneh, Bun. Nggak ada hitungannya. Itu dinilai nggak?"

Keheranan semacam itu wajar dibawa pulang anak seusai sesi Survei Karakter. Sesinya memang tidak dinilai. Tidak ada jawaban benar dan tidak ada jawaban salah; yang diminta hanya kejujuran anak tentang dirinya sendiri.

Bentuk pertanyaannya

Alih-alih soal, yang muncul adalah pernyataan yang harus ditanggapi anak dengan pilihan seperti tidak pernah, kadang-kadang, sering, atau selalu. Contohnya kira-kira begini: "Saya menyelesaikan tugas meskipun sulit." "Saya meminta maaf ketika membuat teman kesal." "Saya membuang sampah pada tempatnya walaupun tidak ada yang melihat." "Saya mau bekerja sama dengan teman yang berbeda dari saya."

Ada juga bentuk cerita pendek. Anak dihadapkan pada situasi kecil — misalnya menemukan uang di lorong sekolah, atau melihat teman diejek — lalu diminta memilih tindakan yang paling mendekati apa yang biasanya ia lakukan. Perhatikan kata biasanya: yang ditanya kebiasaan nyata, bukan tindakan ideal.

Pada struktur tryout tka.id, sesi ini berisi 10 pertanyaan dengan waktu 20 menit, dikerjakan pada hari pertama setelah Matematika. Ada satu sesi survei lagi di hari kedua, namanya Survei Lingkungan Belajar, yang menanyakan hal berbeda: bagaimana suasana kelas, apakah anak merasa aman di sekolah, apakah ada perundungan, bagaimana dukungan belajar di rumah. Yang dipotret di sana bukan anaknya, melainkan lingkungannya.

Kenapa ada sesi yang tidak menghasilkan angka

Karena hasil belajar tidak pernah hanya soal angka Matematika. Sebuah sekolah dengan rata-rata nilai tinggi tetapi murid-muridnya merasa tidak aman sedang menyimpan masalah yang tidak akan terlihat dari skor mana pun. Survei semacam ini menjadi cara memotret hal-hal itu secara serentak dan dalam jumlah besar.

Di tka.id, kedua sesi survei sengaja dikeluarkan sepenuhnya dari perhitungan. Skor mata pelajaran 0 sampai 100 hanya berasal dari Matematika dan Bahasa Indonesia, dan total 200 dihitung dari keduanya saja. Jawaban anak di sesi survei tidak pernah menambah atau mengurangi satu poin pun, juga tidak masuk papan peringkat.

Bagaimana perlakuan resminya nanti pada pelaksanaan TKA SD, termasuk apakah hasilnya dilaporkan ke sekolah dalam bentuk tertentu, belum diumumkan. Payung aturannya, Kepmendikdasmen 95/M/2025, sudah terbit sejak tahun lalu; yang belum turun adalah rincian teknis untuk jenjang SD.

Bedanya dengan Survei Lingkungan Belajar

Kedua sesi survei sering tertukar dalam percakapan orang tua, padahal sasarannya berbeda. Survei Karakter menanyakan tentang diri anak: kebiasaan, sikap, cara ia memperlakukan orang lain. Survei Lingkungan Belajar menanyakan tentang keadaan di sekelilingnya.

Pertanyaan di sesi kedua kira-kira berbunyi: apakah guru menjelaskan sampai kamu paham, apakah kamu pernah takut datang ke sekolah, apakah ada teman yang sering diganggu, apakah di rumah ada tempat yang cukup terang untuk belajar. Jawabannya dipakai untuk memotret suasana, bukan untuk menilai anak maupun menilai gurunya secara perorangan.

Karena itu wajar kalau anak bertanya, "Kalau aku jawab jujur, nanti Bu Guru marah?" Jawaban terbaik adalah menjelaskan bahwa hasilnya dibaca sebagai gambaran satu sekolah secara keseluruhan, bukan sebagai laporan atas nama satu murid. Kalau anak tetap ragu, itu sendiri sudah menjadi informasi yang perlu Ayah dan Bunda perhatikan.

Jangan mengajari anak menjawab "yang bagus"

Ini bagian yang paling perlu didengar orang tua. Godaan untuk berpesan "nanti kalau ditanya rajin belajar, jawab selalu ya" itu wajar, tetapi merugikan.

Alasan pertama, tidak ada yang diuntungkan. Skor anak tidak naik, kelulusan tidak terpengaruh. Alasan kedua, jawaban yang dikarang membuat potret lingkungan belajar menjadi salah. Kalau seluruh anak di sebuah sekolah menjawab bahwa mereka tidak pernah melihat perundungan padahal kenyataannya ada, masalah itu tetap tidak akan tertangani. Alasan ketiga, dan yang paling penting: anak sedang belajar bahwa menjawab jujur itu aman. Pelajaran itu jauh lebih berharga daripada kesan bagus di sebuah survei.

Cukup katakan: "Ini bukan ujian. Jawab sesuai yang biasanya kamu lakukan, bukan yang kamu pikir seharusnya."

Kalau anak bingung memilih

Beberapa anak terjebak lama pada pertanyaan seperti ini, karena mereka mencari jawaban yang "benar" dan tidak menemukannya. Latihan singkat di rumah bisa membantu. Bacakan lima pernyataan, minta anak menjawab cepat tanpa berpikir panjang, lalu tanyakan kenapa ia memilih itu. Setelah dua atau tiga kali, ia terbiasa dan tidak lagi menganggapnya jebakan.

Waktu 20 menit untuk 10 pertanyaan sebenarnya sangat longgar — kira-kira dua menit per pertanyaan, padahal menjawab sejujurnya biasanya butuh kurang dari 20 detik. Beri tahu anak bahwa ia boleh selesai lebih cepat dan itu bukan tanda ia mengerjakan asal-asalan.

Pertanyaan-pertanyaan tadi sebenarnya bahan obrolan makan malam yang bagus. Tanyakan satu saja, misalnya apakah ia pernah melihat teman dijauhi di kelas. Jawaban yang keluar kadang lebih mengejutkan daripada nilai rapor mana pun.

Artikel lainnya