Soal Berbasis Wacana: Satu Teks untuk Beberapa Soal Sekaligus
Stimulus bisa berupa teks, tabel, grafik, atau infografik, dan biasanya melayani beberapa soal sekaligus. Urutan membaca yang hemat waktu dan jebakan menjawab pakai pengetahuan umum.
Layarmu terbagi dua. Sebelah kiri ada teks berjudul, bisa digulir sendiri, panjangnya enam paragraf. Sebelah kanan ada soalnya. Saat kamu menekan lanjut, teks di kiri tidak berubah, cuma soal di kanan yang berganti. Begitu sampai soal keempat, teksnya baru diganti dengan teks lain.
Susunan semacam itu namanya soal berbasis wacana, atau soal berstimulus. Satu bahan bacaan dipakai untuk beberapa soal sekaligus, biasanya dua sampai lima. Di ponsel tampilannya berubah: stimulus jadi blok yang bisa dibuka-tutup di atas soal, supaya layar sempit tidak habis untuk teks.
Yang bisa menjadi stimulus
Bukan cuma teks bacaan. Stimulus bisa berupa berita, kutipan cerita pendek, infografik, tabel data, grafik batang, potongan aturan, percakapan, bahkan gambar percobaan. Di TKA jenjang SMA, bagian Bahasa Indonesia bahkan diberi nama Bahasa Indonesia Wajib dan Literasi Membaca — nama itu sendiri sudah memberi tahu bahwa bahan bacaan akan mendominasi.
Bagian Matematika juga memakai stimulus, hanya bentuknya lebih sering tabel, grafik, atau situasi sehari-hari yang perlu diterjemahkan jadi hitungan. Untuk siswa SMA yang mengambil mata pelajaran pilihan seperti Fisika atau Ekonomi, stimulus bisa berupa data percobaan atau kutipan berita ekonomi.
Soalnya menempel, tidak terpencar
Ada hal teknis yang berguna kamu ketahui. Di tka.id, soal-soal yang berbagi satu stimulus selalu disajikan berurutan dan tidak pernah terpisah, bahkan ketika urutan soal diacak. Yang diacak adalah urutan kelompoknya, bukan soal di dalam kelompok. Untuk bagian yang berbasis bacaan panjang seperti Bahasa Indonesia, urutan soal bahkan sengaja tidak diacak sama sekali supaya alurnya mengikuti alur teks.
Artinya, saat kamu mendarat di soal pertama sebuah kelompok, kamu boleh berasumsi teks yang sama akan melayani beberapa soal berikutnya. Waktu yang kamu pakai untuk membaca teks itu bukan biaya untuk satu soal, melainkan investasi untuk tiga atau empat soal. Cara berpikir ini mengubah perhitungan waktumu.
Urutan membaca yang hemat waktu
Godaan pertama adalah langsung membaca teks dari awal sampai akhir dengan teliti. Godaan kedua adalah melompat ke soal tanpa membaca teks sama sekali, lalu berburu kata kunci. Keduanya boros dengan cara yang berbeda.
Yang lebih efisien ada di tengah. Habiskan sekitar 30 detik untuk survei: baca judul, baca kalimat pertama tiap paragraf, lihat angka atau nama yang mencolok. Kamu tidak sedang memahami, kamu sedang membuat peta. Setelah itu lihat soal-soalnya sekilas untuk tahu apa yang dicari. Baru masuk ke pembacaan yang teliti, dan hanya pada bagian yang relevan.
Untuk teks fiksi, petanya berbeda. Yang perlu kamu pegang bukan susunan informasinya, melainkan siapa yang bergerak dan apa yang berubah pada dirinya menjelang akhir. Nama tempat dan angka tahun boleh lewat begitu saja.
Jawaban harus berasal dari stimulus
Jebakan paling mahal pada soal berstimulus adalah menjawab dengan pengetahuan umum. Sebuah opsi bisa saja benar menurut yang kamu tahu dari pelajaran atau berita, tapi salah karena teks yang diberikan tidak mengatakannya. Perintah "berdasarkan teks" atau "menurut grafik" itu pembatas, bukan basa-basi.
Kebalikannya juga terjadi: sebagian isi stimulus memang sengaja tidak dipakai oleh satu soal pun. Data yang menganggur itu bukan tanda kamu melewatkan sesuatu, melainkan bagian dari ujian membaca. Menyaring mana yang relevan adalah kemampuan yang sedang diukur.
Menghitung jatah waktu
Ambil contoh bagian Bahasa Indonesia dengan 30 soal dan waktu 75 menit. Rata-ratanya 2,5 menit per soal. Kalau satu stimulus melayani empat soal, kelompok itu punya jatah sekitar 10 menit — sudah termasuk membaca teksnya.
Pecah 10 menit tadi menjadi kira-kira 3 menit untuk survei dan pembacaan terarah, lalu 7 menit untuk empat soal. Kalau satu soal menyeret kamu lewat dari dua menit, tandai dan lanjut. Kelompok berikutnya punya teks baru yang mungkin lebih ramah, dan menghabiskan waktu di satu soal sulit berarti mengorbankan tiga soal mudah di kelompok lain.
Menandai teks tanpa alat tulis
Di ujian berbasis komputer kamu tidak bisa mencoret-coret teks di layar. Gantinya, pakai kertas coret untuk menulis peta singkat: nomor paragraf diikuti tiga kata isinya. Enam paragraf berarti enam baris, dan menulisnya butuh kurang dari satu menit.
Peta itu terpakai karena soal keempat sering menanyakan hal yang ada di paragraf kedua. Tanpa peta, kamu akan menggulir naik-turun mencari-cari. Menggulir berulang adalah pemboros waktu yang paling tidak disadari pada soal berstimulus, apalagi di layar ponsel yang hanya memuat beberapa baris sekaligus.
Kalau stimulusnya bukan teks
Untuk stimulus berupa tabel atau grafik, urutan membacanya berubah: judul dulu, lalu satuan, lalu label sumbu atau nama kolom, baru angkanya. Keterangan kecil semacam "dalam ribuan" atau "angka sementara" sering menjadi kunci satu soal utuh.
Untuk stimulus berupa gambar percobaan atau diagram alur, cari dulu arah bacanya, apakah dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, atau melingkar. Salah menebak arah membuat seluruh urutan yang kamu susun jadi terbalik, dan biasanya baru ketahuan setelah dua soal telanjur dijawab.
Keberatan yang wajar terhadap peta enam baris
Ada bantahan yang sering muncul begitu peta tadi disebut: menulisnya sendiri memakan waktu, dan waktu di ujian sedang mahal. Bantahan itu benar untuk stimulus pendek. Kalau teksnya dua paragraf dan melayani dua soal, jangan menulis apa pun, cukup baca.
Hitungannya baru berbalik pada teks enam paragraf yang melayani empat soal. Menulis peta memakan sekitar lima puluh detik, sekali saja. Menggulir naik-turun mencari-cari memakan lima belas sampai dua puluh detik tiap kali kamu perlu kembali, dan dengan empat soal kamu hampir pasti kembali lebih dari tiga kali. Batasnya kira-kira di situ: begitu teks melebihi satu layar penuh dan soalnya lebih dari dua, peta itu terbayar.
Satu paket tryout tka.id memakai tata letak dua panel yang sama, jadi kamu bisa menguji sendiri apakah peta enam barismu benar-benar terpakai.