Ttka.id
← Semua artikel

Peran Orang Tua Saat Anak Menghadapi TKA: Yang Menolong dan Yang Justru Menekan

Administrator · 16 Agustus 2026

Yang paling menolong dari orang tua bukan ikut menghafal materi, melainkan menjaga hal-hal kecil: jam tidur anak, kelengkapan data di sekolah, dan cara bertanya soal nilai.

Malam ini, sebelum lampu kamar dimatikan, minta anak menunjukkan satu soal yang paling bikin macet hari ini. Cukup satu, cukup ditunjukkan, tanpa dinilai dan tanpa dikoreksi. Sepuluh menit, dan gambaran yang Ayah Bunda dapat sudah jauh melampaui hasil seminggu bertanya "sudah belajar belum".

Saran sekecil itu kerap mengecewakan orang tua yang datang membawa kegelisahan besar: saya harus apa, yang ujian kan anak saya. Kegelisahannya sendiri wajar. Tes Kemampuan Akademik baru berjalan beberapa musim sejak Kepmendikdasmen 95/M/2025 terbit, dan hampir tidak ada Ayah Bunda yang dulu mengalaminya sendiri waktu sekolah. Aturan teknisnya menyusul lewat Perkaban BSKAP 045/H/AN/2025 untuk SMA/SMK dan 047/H/AN/2025 untuk SD/SMP. Yang keluar di ujung bukan status lulus atau tidak lulus, melainkan laporan capaian per mata pelajaran.

Tiga urusan yang memang ada di tangan orang tua

Anak yang duduk 75 menit mengerjakan 30 soal Matematika tidak membutuhkan orang tua yang hafal rumus. Ia membutuhkan tiga hal lain, dan ketiganya kebetulan bukan urusan akademik.

Yang pertama urusan administrasi. Pendaftaran TKA berjalan lewat sekolah; orang tua tidak mendaftarkan anaknya sendiri. Untuk jenjang SMA/SMK musim 2026, jendela pendaftarannya masih terbuka sampai 27 September 2026. Tugas Ayah Bunda cukup memastikan data anak di sekolah sudah benar dan tidak ada berkas yang tertahan di meja rumah. Untuk SD dan SMP, tanggalnya belum diumumkan sama sekali, jadi sebaiknya jangan mengunci rencana perjalanan keluarga di semester genap nanti.

Berikutnya urusan tubuh. Ujian TKA berlangsung beberapa hari berturut dengan sesi panjang. Anak yang tidur pukul satu pagi demi mengejar latihan soal biasanya kehilangan lebih banyak poin karena kantuk daripada yang ia dapat dari satu jam tambahan itu. Sarapan, jam tidur, dan jarak antara layar dan mata semuanya ada dalam jangkauan orang tua. Penguasaan materi Geometri tidak.

Sisanya soal suasana rumah, dan bagian ini yang paling sulit diukur. Rumah yang tegang membuat anak belajar sambil menahan napas. Nada suara di meja makan ikut masuk ke ruang ujian minggu depan.

Cara bertanya yang tidak memancing pertengkaran

"Sudah belajar belum?" adalah pertanyaan yang jawabannya sudah bisa ditebak dan hampir selalu berakhir dengan pintu kamar tertutup. Coba tukar dengan pertanyaan yang lebih sempit: tadi latihan bagian apa, soal mana yang paling bikin pusing, kenapa jawabanmu berubah di soal nomor tujuh.

Pertanyaan sempit memaksa anak menjelaskan, dan menjelaskan adalah cara belajar yang paling murah. Sekaligus Ayah Bunda mendapat gambaran nyata tanpa harus membuka buku pelajarannya sendiri.

Satu hal yang sering terlewat: dengarkan sampai selesai sebelum mengoreksi. Anak yang tiap kali bercerita langsung dikoreksi akan berhenti bercerita, dan orang tua kehilangan satu-satunya jendela ke isi kepalanya.

Membaca angka tanpa ikut panik

Di tka.id, skor tiap mata pelajaran ditampilkan pada rentang 0-100, dan totalnya adalah penjumlahan seluruh mapel non-survei: maksimum 200 untuk SD dan SMP yang menguji dua mapel, maksimum 500 untuk SMA yang menguji lima. Angka itu memang yang pertama dilihat orang. Sayangnya angka itu juga yang paling sedikit isinya.

Bagian yang benar-benar berguna ada di rapor per elemen dan per kompetensi, salah satu fitur tka.id yang membedah hasil sampai ke bagian materi. Misalnya seorang siswa mendapat 59 di Bahasa Indonesia. Angka 59 itu tidak memberi tahu apa pun tentang langkah berikutnya. Tetapi ketika rapornya menunjukkan Teks Informasi 71 persen benar sementara Teks Fiksi berhenti di 43 persen, arahnya langsung jelas: dua minggu ke depan porsinya digeser ke soal-soal cerita dan puisi, bagian yang selama ini dilewati karena terasa mengambang.

Rapor semacam itu juga menyelamatkan orang tua dari perdebatan tak berujung soal "anaknya malas". Kadang bukan malas, hanya satu elemen yang bolong sejak dua tahun lalu.

Empat hal yang terasa mendukung padahal menekan

Membandingkan dengan sepupu atau teman sekelas jarang menghasilkan motivasi; yang muncul biasanya rasa malu, dan rasa malu membuat anak menyembunyikan nilai jelek. Menjanjikan hadiah besar dengan syarat angka tertentu memindahkan fokus dari belajar ke transaksi, dan anak yang gagal mencapai target merasa berutang. Menambah program les baru dua minggu sebelum ujian hampir selalu terlambat; yang tersisa cuma kelelahan tambahan. Menunggui anak mengerjakan tryout sambil mengoreksi setiap jawaban di layar membuat latihan berhenti menjadi latihan, karena tidak ada ruang untuk salah.

Salah adalah bahan bakunya. Tryout yang nilainya bagus terus justru tidak memberi informasi baru.

Kalau anak masih SD

Untuk jenjang SD, porsi pendampingan memang lebih besar, tetapi bentuknya tetap teknis, bukan akademis. Ananda kelas 4 sampai 6 biasanya belum terbiasa mengatur sendiri waktu 75 menit tanpa berdiri. Yang bisa dilatih di rumah adalah kebiasaannya: duduk penuh satu sesi latihan tanpa menyentuh ponsel, membaca soal sampai habis sebelum memilih jawaban, dan berani melewati soal sulit lalu kembali lagi. Gambaran materi dan struktur ujiannya bisa dilihat di halaman jenjang SD.

Untuk SMP dan SMA, arah pendampingan bergeser ke pengaturan diri. Anak yang sudah bisa membaca hasil tryoutnya sendiri lalu memutuskan mau memperbaiki apa biasanya bergerak tanpa didorong. Anak yang jadwalnya selalu disusun orang lain berhenti begitu penyusunnya lengah.

Kalau anak tidak bisa menunjukkan apa pun

Sebagian anak, waktu diminta menunjuk satu soal yang bikin macet, benar-benar tidak punya jawaban. Bukan karena menutupi. Ia memang belum pernah mengerjakan soal dalam kondisi yang sungguhan, jadi tidak ada apa pun yang tersimpan untuk ditunjuk. Satu sesi tryout gratis menyelesaikan itu dalam satu sore, dan sesudahnya Ayah Bunda dan anak punya bahan yang sama untuk dibicarakan.

Seorang ibu pernah bercerita, anaknya tidak pernah mau membahas sekolah di rumah. Waktu ditanya balik kapan terakhir kali ia bertanya tanpa menyebut nilai, ia diam cukup lama.

Artikel lainnya