Mata Pelajaran yang Diujikan di TKA SD
TKA SD menguji dua mata pelajaran yang dinilai, yaitu Matematika dan Bahasa Indonesia, ditambah dua sesi survei yang tidak menghasilkan skor.
Sebelum penjelasan panjang, ini gambaran struktur yang dipakai pada tryout TKA SD di tka.id:
| Hari | Sesi | Jumlah soal | Waktu | Dinilai |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Matematika | 30 | 75 menit | ya |
| 1 | Survei Karakter | 10 | 20 menit | tidak |
| 2 | Bahasa Indonesia | 30 | 75 menit | ya |
| 2 | Survei Lingkungan Belajar | 10 | 20 menit | tidak |
Jadi yang benar-benar menghasilkan angka hanya dua: Matematika dan Bahasa Indonesia. Dua sesi lainnya berupa survei, dan survei tidak punya jawaban benar atau salah.
Kenapa hanya dua mata pelajaran
Banyak Ayah dan Bunda kaget karena IPAS tidak masuk daftar. Alasannya, TKA menakar dua kemampuan yang menjadi fondasi semua mata pelajaran lain: kemampuan menghitung dan bernalar dengan angka, serta kemampuan memahami teks. Anak yang kesulitan membaca soal cerita akan kesulitan di IPAS, di PPKn, bahkan di Matematika itu sendiri. Mengukur fondasinya lebih hemat daripada mengukur semua mata pelajaran satu per satu.
IPAS, PPKn, PJOK, Seni, dan mata pelajaran lain tetap punya tempat. Nilainya ada di rapor, dan rapor tetap dipakai sekolah. Yang berubah hanya apa yang diukur oleh tes ini.
Bandingkan dengan jenjang SMA
Struktur SMA jauh lebih ramai. Di sana ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, ditambah dua mata pelajaran pilihan yang dipilih sendiri oleh siswa dari daftar seperti Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, sampai bahasa asing. Total lima mata pelajaran yang dinilai, tersebar dalam beberapa hari.
Di SD tidak ada mata pelajaran pilihan. Semua peserta mengerjakan paket yang sama. Ini kabar baik untuk orang tua: tidak ada keputusan strategis yang perlu diambil, tidak ada risiko salah memilih. Yang tersisa hanya soal persiapan.
Isi masing-masing mata pelajaran
Matematika dibagi menjadi tiga kelompok materi: Bilangan, Geometri dan Pengukuran, serta Data. Bilangan mencakup operasi hitung, KPK dan FPB, pecahan dan desimal, perbandingan, serta persen. Geometri dan Pengukuran berisi keliling dan luas bangun datar, volume bangun ruang, satuan panjang dan berat dan waktu, juga bangun-bangun gabungan. Data berisi tabel, diagram batang, piktogram, dan pengolahan sederhana seperti rata-rata.
Bahasa Indonesia dibagi dua: Teks Informasi dan Teks Fiksi. Teks Informasi berupa berita pendek, laporan pengamatan, teks prosedur, sampai infografik dan tabel jadwal. Teks Fiksi berupa cerita anak, fabel, puisi anak, dan penggalan drama. Soalnya selalu menempel pada bacaan, jadi anak tidak bisa menjawab tanpa membaca teksnya lebih dulu.
IPAS tidak diujikan, tetapi tidak benar-benar hilang
Ini nuansa yang sering luput. Meski tidak ada sesi IPAS, isi pelajaran itu sering muncul sebagai bahan soal. Teks bacaan di Bahasa Indonesia bisa bercerita tentang daur air, rantai makanan, atau gerhana. Soal Matematika bisa memakai data curah hujan, suhu, atau hasil panen.
Bedanya, yang dinilai bukan hafalan sains anak. Kalau teks menjelaskan proses penguapan, semua informasi yang dibutuhkan untuk menjawab sudah tersedia di teks itu. Anak yang belum pernah membaca tentang daur air tetap bisa menjawab benar asalkan ia membaca dengan teliti.
Efek sampingnya menguntungkan: anak yang gemar membaca bacaan sains, sejarah, atau geografi biasanya lebih cepat memahami teks semacam itu karena istilahnya sudah akrab. Membaca luas tetap terbayar, hanya saja lewat jalur yang tidak langsung.
Bentuk soal yang perlu dikenali lebih dulu
Empat bentuk dipakai. Pilihan ganda biasa dengan satu jawaban benar. Pilihan ganda kompleks yang meminta anak memilih beberapa jawaban sekaligus. Tabel pernyataan yang harus dikategorikan, misalnya Benar atau Salah untuk setiap barisnya. Terakhir isian singkat, ketika anak mengetik angka atau kata tanpa diberi pilihan.
Bentuk terakhir itu yang paling sering membuat nilai anjlok pada latihan pertama. Bukan karena materinya sulit, melainkan karena anak terbiasa mengeliminasi pilihan. Ketika pilihan itu dihilangkan, ia harus benar-benar menyelesaikan hitungannya sampai tuntas.
Bentuk pilihan ganda dengan beberapa jawaban benar juga menyimpan kejutan. Anak tidak diberi tahu berapa banyak jawaban yang seharusnya dipilih, jadi ia harus memeriksa setiap opsi satu per satu. Menembak dengan memilih semua opsi bukan strategi yang menguntungkan, karena pilihan yang keliru mengurangi nilai yang sudah didapat dari pilihan yang benar.
Angka yang muncul di akhir
Di tka.id, setiap mata pelajaran yang dinilai menghasilkan skor 0 sampai 100. Karena SD punya dua mata pelajaran, total maksimalnya 200. Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar sengaja dikeluarkan dari perhitungan, jadi jawaban anak di sana tidak pernah menaikkan atau menurunkan skor. Selain angka total, hasilnya juga dipecah per kelompok materi dan per kemampuan, misalnya seberapa kuat anak pada penalaran dibanding pada hitungan rutin. Rinciannya bisa dilihat di halaman SD.
Perlu ditegaskan, skala 0 sampai 100 dan total 200 itu cara tka.id menyajikan hasil latihan. Format penilaian resmi untuk jenjang SD belum diumumkan pemerintah. Aturan yang sudah ada baru kerangkanya, yaitu Kepmendikdasmen 95/M/2025 dan Perkaban BSKAP 047/H/AN/2025.
Kalau waktu belajar di rumah terbatas, jangan membaginya rata. Lihat dulu hasil satu tryout, lalu berikan porsi lebih besar pada mata pelajaran yang skornya tertinggal jauh. Membagi rata terasa adil, tapi biasanya menghasilkan kemajuan yang datar di keduanya.