Literasi Membaca dalam TKA: Apa yang Sebenarnya Diuji
Yang diukur bukan kecepatan membaca, melainkan tiga tingkat pemahaman: menemukan informasi tersurat, menarik makna tersirat, dan menilai isi teks. Contoh bentuk pertanyaan tiap tingkat.
Yang diuji bukan seberapa cepat kamu membaca, dan bukan seberapa banyak kosakata yang kamu hafal. Ada tiga hal yang dicari: apakah kamu bisa menemukan informasi yang tertulis, apakah kamu bisa menangkap yang tidak tertulis tapi bisa ditarik dari teks, dan apakah kamu bisa menilai isi bacaan itu.
Ketiganya disusun bertingkat. Di rapor hasil tka.id, ketiganya muncul sebagai tiga kompetensi terpisah untuk bagian bahasa: pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Kalau skormu tinggi di yang pertama tapi jatuh di yang kedua, itu memberi tahu hal yang jauh lebih berguna daripada sekadar angka bahasa Indonesia 68.
Tingkat pertama: menemukan yang tertulis
Jawabannya ada di teks, tinggal ditemukan. Bentuk pertanyaannya lugas: kapan program itu mulai berjalan, siapa yang menandatangani perjanjian, berapa jumlah peserta pada tahun ketiga, di paragraf mana penulis menyebut penyebabnya.
Kelihatan mudah, dan memang tingkat inilah yang paling sering benar. Tapi kesalahan tetap terjadi, biasanya karena teks menyebut dua angka yang mirip dan siswa mengambil yang pertama ditemukan. Kebiasaan menunjuk baris sumber sebelum memilih jawaban menutup sebagian besar kebocoran di tingkat ini.
Tingkat kedua: menangkap yang tersirat
Jawabannya tidak tertulis, tapi bisa ditarik dari beberapa kalimat sekaligus. Pertanyaannya berbunyi seperti: sikap penulis terhadap kebijakan itu paling tepat digambarkan sebagai apa, apa hubungan antara paragraf ketiga dan keempat, apa yang mungkin terjadi jika kondisi pada paragraf terakhir berlanjut, mengapa tokoh memilih diam pada bagian akhir cerita.
Di sinilah paling banyak siswa tergelincir, dan gejalanya khas: opsi yang dipilih memang benar menurut teks, tapi bukan jawaban dari yang ditanya. Sebuah opsi bisa mengutip kalimat yang persis ada di bacaan, dan justru karena itu terasa aman, padahal pertanyaannya meminta kamu menarik makna, bukan mengulang kalimat.
Cara memeriksanya: setelah memilih, tanyakan pada diri sendiri apakah opsi itu menjawab kata tanya yang dipakai soal. Kalau soal bertanya "mengapa" dan opsimu menjelaskan "apa", ada yang meleset.
Tingkat ketiga: menilai, bukan mengulang
Tingkat ini meminta kamu berdiri sedikit di luar teks. Bukti mana yang paling lemah untuk mendukung pendapat penulis? Bagian mana yang merupakan opini dan bukan fakta? Kalau dua teks membahas hal yang sama dengan sikap berbeda, apa yang membuat argumen salah satunya lebih kuat? Untuk teks cerita, pertanyaannya bisa berupa penilaian terhadap pilihan tokoh atau efek dari cara penulis mengakhiri cerita.
Berlatih di tingkat ini tidak bisa dengan mengerjakan banyak soal saja. Yang menolong adalah kebiasaan bertanya balik pada bacaan sehari-hari: dari mana penulis dapat angka itu, apakah contohnya cukup untuk menyimpulkan seluas itu, ada tidak sisi lain yang tidak disebut.
Dua jenis teks yang dipakai
Bahan bacaannya dibagi dua: teks informasi dan teks fiksi. Teks informasi berisi berita, laporan, artikel penjelasan, atau infografik, dan yang diburu adalah struktur, data, serta hubungan sebab-akibat. Teks fiksi berisi cerita pendek, kutipan novel, atau puisi, dan yang diburu adalah tokoh, konflik, latar, serta perubahan sikap.
Banyak siswa membaca cerita dengan cara membaca berita, lalu bingung ketika ditanya tentang watak tokoh. Ganti targetnya, bukan kecepatannya.
Bentuk bagian bahasa di TKA
Untuk semua jenjang, bagian Bahasa Indonesia berisi 30 soal dengan waktu 75 menit, dan sebagian besar soal menempel pada bacaan. Karena terikat pada teks, urutan soalnya tidak diacak, jadi alurnya mengikuti alur bacaan. Untuk jenjang SMA, bagiannya bahkan diberi nama Bahasa Indonesia Wajib dan Literasi Membaca, dan ada pula bagian Bahasa Inggris Wajib dengan susunan serupa.
Rata-rata waktunya 2,5 menit per soal, tapi karena soalnya berkelompok, angka itu lebih berguna dihitung per teks daripada per nomor: empat soal atas satu bacaan berarti kamu memegang sepuluh menit sekaligus, membaca sudah termasuk di dalamnya.
Kata tanya yang menentukan tingkat
Cara tercepat mengenali tingkat sebuah soal adalah melihat kata tanyanya. Kapan, siapa, berapa, dan di mana hampir selalu berada di tingkat pertama. Mengapa, bagaimana hubungan, dan apa maksud penulis berada di tingkat kedua. Manakah bukti yang paling kuat, apa kelemahan argumen, dan setujukah kamu berada di tingkat ketiga.
Kebiasaan menandai kata tanya sebelum melihat opsi mencegah kesalahan yang paling umum, yaitu memilih opsi yang benar untuk pertanyaan lain. Pada soal berkelompok, empat soal bisa memakai empat kata tanya berbeda atas teks yang sama, dan opsi milik satu soal sering terasa cocok untuk soal tetangganya.
Makna kata dalam konteks
Satu tipe soal muncul di hampir semua paket: makna kata di dalam kalimat. Bunyinya seperti, kata "menggerus" pada paragraf ketiga paling dekat maknanya dengan apa? Yang diminta bukan arti kamus, melainkan arti yang pas di kalimat itu.
Cara mengerjakannya: tutup kata yang ditanyakan, baca kalimatnya, lalu isi sendiri dengan kata versimu. Baru buka opsinya dan cari yang paling dekat. Urutan ini mencegah opsi memengaruhi tebakanmu, dan lebih cepat daripada memasang lima opsi satu per satu ke dalam kalimat sambil menimbang mana yang enak dibaca.
Kembali ke angka 68
Nilai bahasa Indonesia 68 tidak memberi tahu apa pun tentang yang harus dikerjakan besok pagi. Tiga angka di baliknya memberi tahu hampir segalanya. Tekstual 85 dengan inferensial 55 dan evaluasi 40 menunjuk ke satu kebiasaan yang jelas, yaitu memilih opsi yang mengutip kalimat teks karena kutipan terasa aman. Susunan sebaliknya, tekstual 55 dengan inferensial 80, menunjuk ke tempat yang sama sekali lain: ketergesaan mengambil angka pertama yang ditemukan.
Jadi ketika rapor tryout keluar, lewati dulu angka besarnya. Yang menentukan bahan latihanmu berikutnya ada di tiga baris di bawahnya, dan tiga baris itu jarang mengatakan "belajar bahasa Indonesia lebih giat". Untuk siswa SMA yang jadwal ujiannya jatuh pada 26 Oktober sampai 8 November 2026, susunan lengkap tiap bagian bisa dilihat di halaman SMA.