Kisi-Kisi Bahasa Indonesia TKA SD: Teks Informasi dan Teks Fiksi
Bahasa Indonesia di TKA SD menguji pemahaman dua jenis teks, yaitu teks informasi dan teks fiksi, lewat tiga tingkat kemampuan membaca yang naik dari tersurat ke penilaian isi.
Ada satu salah paham yang perlu diluruskan sejak awal: soal Bahasa Indonesia di TKA SD hampir tidak menanyakan istilah tata bahasa. Anak jarang diminta menyebutkan definisi kalimat majemuk atau menghafal jenis imbuhan. Yang diminta adalah membaca sebuah teks lalu membuktikan bahwa ia benar-benar memahaminya.
Karena itu, latihan menghafal daftar istilah biasanya tidak berbuah banyak. Latihan membaca berbuah.
Dua jenis teks yang dipakai
Teks Informasi. Berita pendek, laporan pengamatan, teks prosedur, penjelasan tentang gejala alam, dan bentuk-bentuk yang tidak seluruhnya berupa paragraf: infografik, tabel jadwal, denah, label kemasan, atau grafik sederhana. Panjangnya biasanya 150 sampai 350 kata.
Teks Fiksi. Cerita anak, fabel, cerita rakyat, puisi anak, dan penggalan drama. Di sini muncul pertanyaan tentang tokoh, watak, latar, alur, konflik, dan pesan cerita.
Satu teks tidak hanya melahirkan satu soal. Biasanya tiga sampai lima pertanyaan menempel pada bacaan yang sama, dan urutannya tidak diacak karena harus mengikuti alur teks. Ini sebenarnya menguntungkan: modal membaca satu kali dipakai untuk beberapa jawaban, asalkan anak membacanya serius pada kesempatan pertama.
Tiga tingkat kemampuan membaca
Pemahaman tekstual. Jawabannya tertulis di dalam teks. Anak tinggal menemukannya. Pertanyaannya berbunyi seperti "kapan kegiatan itu dimulai", "berapa jumlah pohon yang ditanam", atau "siapa yang menemukan dompet itu". Terdengar mudah, tetapi tetap ada yang salah karena membaca terlalu cepat dan menangkap angka yang keliru.
Pemahaman inferensial. Jawabannya tidak tertulis, harus disimpulkan. Termasuk di sini: menentukan gagasan utama paragraf, memaknai kata sulit dari konteks kalimat, menebak apa yang mungkin terjadi selanjutnya, menjelaskan sebab suatu peristiwa, dan menyimpulkan watak tokoh dari perbuatannya. Bagian inilah yang paling banyak menyita nilai.
Evaluasi dan apresiasi. Anak diminta menilai. Apakah alasan penulis kuat, apakah judulnya cocok dengan isi, bagian mana yang paling menyentuh dan mengapa, atau pesan apa yang bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Untuk pertanyaan seperti ini sering tidak ada satu jawaban tunggal yang benar, yang dinilai adalah kecocokan alasan dengan isi teks.
Tiga tingkat itu dari satu paragraf yang sama
Bayangkan sebuah paragraf pendek: "Sejak koperasi sekolah menjual tumbler pada Februari, sampah botol plastik di SD Melati turun dari 6 kantong menjadi 2 kantong per minggu. Bu Sari, penjaga koperasi, mengaku persediaan tumbler habis dua kali."
Pertanyaan tekstual: berapa kantong sampah botol plastik per minggu sebelum koperasi menjual tumbler? Jawabannya tertulis, yaitu 6 kantong.
Pertanyaan inferensial: mengapa persediaan tumbler habis dua kali? Tidak ada kalimat yang menjelaskannya. Anak harus menyimpulkan bahwa peminatnya banyak, dan penjualan itulah yang membuat sampah botol berkurang.
Pertanyaan evaluasi: menurut kamu, apakah menjual tumbler cara yang tepat untuk mengurangi sampah di sekolah? Sertakan alasan dari teks. Di sini anak dinilai dari kekuatan alasannya, bukan dari pilihan setuju atau tidaknya.
Satu paragraf, tiga tingkat permintaan yang berbeda. Ayah dan Bunda bisa memakai pola ini untuk teks apa pun di rumah.
Bentuk soal yang muncul
Selain pilihan ganda biasa, ada pilihan ganda yang meminta beberapa jawaban sekaligus, misalnya "pilih tiga kalimat yang merupakan fakta". Ada tabel pernyataan yang harus ditandai Benar atau Salah menurut isi bacaan. Ada juga isian singkat, misalnya menuliskan kata yang tepat untuk menggantikan sebuah istilah.
Tabel pernyataan Benar atau Salah punya jebakan khusus. Sebuah pernyataan bisa terdengar sangat masuk akal namun tidak disebutkan dalam teks. Jawaban yang benar tetap Salah, karena yang ditanyakan isi bacaan, bukan pengetahuan umum anak. Ini perlu dilatih, karena naluri anak biasanya menjawab berdasarkan apa yang ia percayai benar.
Latihan yang benar-benar berpengaruh
Ambil satu teks apa saja: berita di koran, halaman ensiklopedia anak, bahkan artikel pendek yang Ayah dan Bunda baca. Minta anak membacanya, lalu ajukan tiga pertanyaan dengan urutan tetap. Pertama, pertanyaan yang jawabannya ada di teks. Kedua, pertanyaan yang jawabannya harus disimpulkan. Ketiga, pertanyaan pendapat beserta alasannya.
Lakukan itu empat kali seminggu, masing-masing sekitar 15 menit. Setelah sebulan, perbedaannya biasanya terasa pada pertanyaan jenis kedua, yang justru paling menentukan.
Kebiasaan yang diam-diam menggerus nilai
Perhatikan anak saat mengerjakan soal bacaan. Ia membaca teks sekilas, mulai menjawab, lalu balik lagi ke teks. Menjawab lagi, balik lagi. Setiap pertanyaan membuatnya mengulang dari awal, dan menit-menit itu habis tanpa pemahamannya bertambah. Yang lebih hemat adalah membaca sekali dengan sungguh-sungguh, baru menengok kembali hanya untuk memastikan angka atau nama.
Ada juga kebiasaan yang lebih halus. Pada teks tentang kebersihan lingkungan, anak menjawab dari apa yang ia pelajari di kelas, bukan dari apa yang tertulis. Ingatkan berulang kali bahwa yang ditanyakan isi bacaan, bukan isi kepala.
Sisanya menyangkut judul dan keterangan gambar yang dilewati begitu saja. Pada infografik dan tabel, jawabannya justru sering tersembunyi di sana.
Untuk melihat sejauh mana kemampuan membaca anak berkembang, hasil tryout di tka.id memisahkan ketiga tingkat tadi, sehingga terlihat apakah anak lemah karena kurang teliti atau karena kesulitan menyimpulkan. Latihan bacaan pendek juga tersedia di halaman materi.
Di rumah, biarkan anak menggarisbawahi angka, nama, dan tanggal yang ia temui saat membaca. Ketika pertanyaan tentang detail itu muncul, ia tidak perlu membaca ulang seluruh teks — cukup melihat tandanya. Di tes berbasis komputer, pensilnya berpindah ke kertas buram dan kebiasaan itu tetap sama gunanya.