Ttka.id
← Semua artikel

Cara Guru Membaca Hasil TKA dan Mengubahnya Jadi Rencana Mengajar

Administrator · 16 Agustus 2026

Hasil TKA paling berguna ketika dibaca per elemen dan per kompetensi, bukan per siswa. Dari situ guru bisa menentukan bab mana yang perlu diulang dan bagian mana yang cukup disinggung.

Rekap nilai satu kelas tiba di meja guru, isinya 32 baris angka. Rata-rata Matematika 58. Pertanyaannya, lalu apa?

Angka rata-rata hampir tidak pernah menghasilkan tindakan mengajar yang jelas. Yang menghasilkan tindakan adalah pertanyaan berikutnya: 58 itu jatuh di bagian mana.

Dua lapis pembacaan yang berbeda gunanya

Hasil TKA menyimpan dua sumbu informasi yang sering tertukar. Sumbu pertama adalah elemen, yaitu isi materinya. Sumbu kedua adalah kompetensi, yaitu jenis kemampuan berpikir yang dituntut soal.

Untuk Matematika jenjang SMP, elemennya mencakup Bilangan, Aljabar, Geometri dan Pengukuran, serta Data dan Peluang. Di jenjang SD elemennya lebih ringkas: Bilangan, Geometri dan Pengukuran, Data. Bahasa Indonesia di semua jenjang bergerak di dua elemen, Teks Informasi dan Teks Fiksi.

Kompetensinya lain lagi. Untuk Matematika ada Pengetahuan Matematika, Representasi, Penalaran, Pemecahan Masalah, dan Koneksi Matematis. Untuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ada Pemahaman Tekstual, Pemahaman Inferensial, serta Evaluasi dan Apresiasi.

Perbedaan keduanya menentukan tindakan yang berbeda. Kelas yang jatuh di elemen Geometri butuh materi Geometri diulang. Kelas yang skornya merata tetapi jatuh di kompetensi Penalaran tidak butuh materi baru sama sekali; yang perlu diubah adalah jenis soal yang biasa diberikan di kelas.

Pola yang sering muncul, dan artinya

Ada beberapa bentuk sebaran yang biasanya berulang dari tahun ke tahun.

Bila skor tinggi pada Pengetahuan Matematika tetapi rendah pada Pemecahan Masalah, siswa hafal prosedur dan bisa mengeksekusi soal yang sudah berbentuk rumus, tetapi buntu ketika soal datang sebagai cerita yang harus diterjemahkan dulu. Perbaikannya bukan menambah drill hitungan, melainkan memperbanyak soal yang informasinya harus digali sendiri dari konteks.

Pola kedua muncul di Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris: Pemahaman Tekstual tinggi, Pemahaman Inferensial rendah. Siswa bisa menemukan informasi yang tertulis eksplisit di teks, tetapi kesulitan menarik hal yang hanya tersirat. Di kelas, ini terlihat sebagai siswa yang lancar menjawab "di paragraf berapa disebutkan" tetapi bingung pada "apa maksud penulis".

Yang ketiga sama sekali tidak berurusan dengan materi. Hasilnya bagus di soal pilihan ganda biasa lalu anjlok di soal PGK pilih beberapa jawaban. Pada bentuk itu, memilih opsi yang tidak diyakini bisa mengurangi perolehan, sehingga siswa yang terbiasa menebak akan tertahan. Latihan singkat tentang cara membaca perintah soal biasanya menaikkan angkanya dalam waktu pendek.

Membaca sebaran, bukan rata-rata

Rata-rata kelas 58 bisa berarti dua situasi yang sangat berbeda. Bisa berarti hampir semua siswa berada di rentang 52-64, atau bisa berarti setengah kelas di angka 80 dan setengahnya di angka 36.

Perbedaan itu menentukan apakah remedial dilakukan untuk seluruh kelas atau untuk kelompok kecil. Pengajaran ulang untuk seluruh kelas padahal separuhnya sudah menguasai adalah cara tercepat membuat separuh yang lain bosan dan berhenti memperhatikan.

Cara praktisnya, urutkan siswa berdasarkan skor per elemen, lalu potong menjadi tiga kelompok. Kelompok bawah mendapat pengulangan konsep dasar, kelompok tengah mendapat latihan bertingkat, kelompok atas mendapat soal yang menuntut penalaran lebih tinggi. Satu jam pelajaran yang sama, tiga jenis lembar kerja.

Menyusun rencana enam minggu dari satu rekap

Ambil tiga elemen dengan persentase terendah di kelas. Tiga, meski yang tampak merah ada tujuh.

Bagi ke dalam enam pekan dengan pola dua pekan per elemen: pekan pertama pengulangan konsep dan latihan terbimbing, pekan kedua latihan mandiri dengan soal yang levelnya naik. Sisipkan satu asesmen pendek 10 soal di akhir tiap pekan kedua, cukup 20 menit, untuk melihat apakah pergeserannya nyata.

Kalau setelah dua pekan angkanya tidak bergerak, biasanya penyebabnya ada di lapisan yang lebih bawah. Siswa yang gagal di Aljabar sering sebenarnya gagal di operasi bilangan bulat dan pecahan, misalnya tidak lancar pada bentuk seperti 3/4 dikurangi 2/3. Mengulang Aljabar berkali-kali tidak akan menolong sampai lapisan bawahnya ditambal.

Menggunakan tryout sebagai alat ukur, bukan sebagai vonis

Banyak sekolah menjalankan tryout beberapa kali per semester lalu menempel hasilnya di dinding. Efeknya terhadap siswa bawah biasanya negatif dan efeknya terhadap pengajaran nyaris nol.

Tryout jauh lebih berguna kalau diperlakukan sebagai pengukuran berkala untuk guru. Jalankan satu paket di awal periode, rancang pengajaran dari sebarannya, lalu jalankan paket setara di akhir periode dan bandingkan per elemen. Yang dilihat elemen mana yang bergerak dan elemen mana yang bergeming; peringkat satu boleh diabaikan sama sekali.

Di tka.id, laporan hasil memang dipecah sampai ke tingkat elemen dan kompetensi supaya perbandingan seperti itu bisa dilakukan tanpa mengoreksi manual. Pembagian skor 0-100 per mata pelajaran dan rapor per elemen itu sendiri adalah cara tka.id menyajikan hasil, bukan format resmi laporan pemerintah.

Yang bisa dikerjakan pekan depan

Buka satu rekap hasil terbaru, pilih satu kelas, dan tandai tiga elemen terlemahnya. Susun satu lembar kerja untuk elemen paling lemah, dengan tiga tingkat kesulitan di lembar yang sama.

Kalau belum ada data hasil sama sekali, satu paket latihan pendek yang materinya bisa dilihat di halaman materi sudah cukup untuk memulai peta awal. Peta itu boleh kasar. Peta yang dibuka tiap pekan akan memperbaiki dirinya sendiri.

Artikel lainnya